Konsep manusia yang dikembangkan
Romo mangun tidak dapat dilepaskan dari perjalanan hidupnya, Romo mangun
menemukan bahwa yang selalu menjadi korban oleh pihak yang yang lebih kuat
dalam masa kemerdekaan maupun pembangunan adalah rakyat kecil, khusunya yang
miskin, terlebih perempuan dan anak-anak. Dalam novel Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa Romo mangun menunjukkan bahwa rakyat kecil
lah yang selalu menjadi tumbah dalam proses sejarah. Tokoh Oti dan Leomadara
adalah sosok rakyat kecil atau ikan homa yang menjadi tumbal bagi ikan-ikan Ido
yang lebih besar, yang kelak pada akhirnya ikan Ido pun akan disantap oleh
ikan-ikan Hiu yang buas dan serakah. Inilah Darwinisme sosial tersebut, siap
yang kuat dialah yang menang.
Y.B. Mangun Wijaya menghayati
hidup dan seluruh karyanyasebagai karya kemanusiaan dalam arti yang luas.
Sedangkan bentuk=bentuk karya spesifiktertentu yang digelutinya, khususnya
sebagai pastor desa di Salam, kabupaten Magelang (dsawarsa tujuh puluhan),
sebagai dosen luar biasa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM (1967-1980),
arsitek independen (1967-1999), kolumnis berbagai koran dan majalah
(1968-1999), novelis (1972-1999), pekerja sosial di tepi Kali Code, Yogyakarta,
dan Grigak, Gunung Kidul (1980-1986), pendamping warga korban pembangunan Waduk
Kedungombo, Jawa Tengah (1986-1994), dan pendamping anak-anak miskin terlantar
dalam Yayasan dana Sayang Anak Derita (Dayang Arita) Santa Elisabeth di
Mangunan (1995/6-1999), semua itu dihayatinya sebagai jalur-jalur operasional
untuk mewujudkan karya pendidikannya pada berbagai dimensi kehidupan bangsa.
Menurut Mangunwijaya, konsep
manusia yang ingin dikembangkannya adalah manusia yang humanis. Namun,
pembentukan manusia yang humanis itu terbentur oleh budaya feodalisme yang
sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat indonesia. Untuk itu, ia
menawarkan sebuah konsep manusia humanis yang terbebas dari belenggu-belenggu
feodalisme, baik feodalisme khas Jawa maupun warisan politik kolonial. Romo
Mangun menamakankonsep manusia humanis itu dengan istilah manusia
Pasca-Indonesia atau Pasca-Nasional dan Pasca-Einstein.
Pasca-Indonesia atau Pasca-Nasional
Romo mangun menempatkan nation
dan nasionalisme modern dalam konteks evolusi bangsa manusia. Secara garis
besar perkembangan interaksi anatarmanusia di dalam kelompok dan di luar
kelompok dapat dimulai dari bentuk komunal sangat sederhana dalam kerangka
dusun yang tertutup, yang kemudian semakin terbukadalam fase-fase evolusi yang
berakselerasi ke hubungan lokal atau regional. Sistem suku kemudian mengalami
proses penghayatan yang lebih meluas lagi, pascasuku, yang semakin
mengonsolidasi diri dalam kerajaan atau susunan feodalisme, yang variasinya
berbentuk banyak, tetapi esensinya sama.
Menurut romo Mangun, kebudayaan
pascasuku tumbuh dari perubahan ekspansi budaya, pemburu, nelayan, dan
pengembara yang berevolusi ke budaya agraris yang menetap, dari kebupatian
sampai ke kerajaan besar. Ekspresi feodal agraris itu disusul oleh struktur
industri dan perdagangan inter-regional inter-benua dalam bentuk republik-republik
kota regional maupun nasional. Kerajaan adalah ekspresi sekaligus
insfrastruktur yang timbul selaku “keharusan perkara” (sachzwang) dari budaya agraris, sedangkan republik atau kerajaan
konstistusional yang kini merupak bentuk yang dominan adalah ekspresi sekaligus
infrastruktur dari budaya insdustri dengan sistem perdagangannya yang khas.
Nasionalisme Indonesia di masa
mendatang, menurut pandangan Romo Mangun, akan kembali berkembang ke
akar-akarnya yang sejak awal mula dicita-citakan oleh Generasi 1928, yakni
kembali ke alur hakikat semulanya yang murni, yakni pembelaan kawan manusia
yang masih dijajah, yang masih miskin dalam segala hal.yang termasuk miskin
kemerdekaan dan penentuan diri sendiri, menolong manusia yang tidak berdaya
menghadapi para kuasa yang sewenang-wenang, yang telah merebut bumi hak
pribadinya dan yang memaksakan kebudayaan serta seleranya kepada si kalah.
Hanya bedanya dulu suasananya serba bendera nasional, jadi selalu menghadap ke
lawan asing di luar. Sedangkan dalam
kebudayaan pasca-Indonesia dalam konteks sekarang ini, lawannya adalah
perlakuan-perlakuan yang dehumanis.
Sedangkan istilah
Pasca-Nasionalisme atau Pasca-Indonesia harus dimengerti dalam konteks
kesejarahannya. Kata pasca – menurut Romo Mangun, jauh lebih baik dan lebih
bermakna daripada kata bahas inggris post.
Romo Mangun mencontohkan bahwa kata post
hanya menunjuk pada arti sesudah, belum menyatakan kontinuitas maupun
diskontinuitas. Seorang pascasarjana
bukan seseorang yang sesudah menjadi sarjana. Dia tetap sarjana, tetapi lebih
luas pandangannya, lebih banyak dimensinya, lebih dalam visinya, dan lebih
dewasa. Seperti kupu-kupu itu bukan post kepompong, tetapi lebih meningkat,
lebih terbang walaupun identitasnya sama. Konsep Pasca-Nasional mencita-citakan
sosok manusia Indonesia yang terbuka kepada nilai-nilai kemanusiaan universal,
meskipun tetap tetap berpegang kepada nilai-nilai keindonesiaan.
Zaman Pasca-Nasional atau
Pasca-Indonesia yang dilontarkan Romo mangun terjadi jika seluruh totalitas
aktivitas serta galaksi pengentalan seluruh ikhtiar manusia untuk menjawab
tantangan hidupnya, mengolahnya dan memberi makna kepadanya dipahami sebagai
upaya menciptakan kebudayaan yang humanis.
Bagi Romo Mangun hidup adalah
perjalanan evolusi raya dari geosfer
atau pembentukan bumi, ke biosfer
atau pembentukan organisme termasuk manusia, dan ke noosfer atau pembentukan lapisan kesadaran yang terus berlangsung
hingga kini. Dalam evolusi noosferik
sendiri manusia sedang mengalami emansipasi ke arah kesejatian kemanusiaannya
semakin utuh, dari tahap kesadaran diri yang
individualistik-hierarkik-eksploitatif ke arah kesadaran hidup bersama yang
demokratik-egalitarian-adil, yang ditandai dengan terkikisnya dari muka bumi
ini struktur-struktur yang buas menindas, digantikan oleh struktur-struktur
yang beradab dan berkeadilan.
Menurut Romo Mangun, di bawah
rezim Orde Baru, Indonesia mengalami kemajuan ekonomi yang pesat, namun
dipandang dari perubahan struktur, Indonesia mengalami kemunduran. Berbeda
dengan generasi angkatan Angkatan 1928 yang merupakan “manusia-manusia baru”
yang mengalami pencerahan, berkat gagasan-gagasan sosialisme dan humanisme
universal, para pemimpin Orde Baru tidak pernah mengalami pencerahan tersebut.
Sebaliknya, mereka dibentuk oleh semangat “fasisme” dan “militerisme” selama
pendudukan Jepang (1942-1945) yang membanggakan warisan nenek moyang. Di bawah
Soeharto, Indonesia mundur di zaman pra Kebangkitan Nasional (1908), yakni
berkuasanya struktur-struktur feodal, primordial, tradisional (dalam bentuk
militerisme) dan (neo) kapitalisme-imperialisme-kolonialis (dalam bentuk
modal-modal, bantuan-bantuan, pinjaman-pinjaman dari negara kaya).
Dalam novel simbolis Durga Umayi, Romo Mangun menunjukkan
bahwa wajah generasi-generasi di republik ini bisa sewaktu-waktu bertukar wajah
dari humanis (Umayi) menjadi dehumanis (Durga). Penguasaan Orde Baru berkhianat
terhadap cita-cita luhur angkatan 1928, mengorbankan rakyat kecil yang
semestinya dilindunginya.
Romo Mangun menganggap bahwa
pendidikan masa Orde Baru tidak meghasilkan “manusia-manusia baru” sehingga
permasalah bangsa Indonesia di bawah Orde Baru
sama dengan angkatan 1928. Untuk itu bagi Mangunwijaya, pendidikan harus
ditempatkan dalam kerangka evolusi ini, yaitu upaya mengantar murid, bangsa,
bahkan umat manusia ke arah pendewasaan diri: teremansipasi, merdeka, humanis
dan sanggup bertanggungjawab sendiri. Proses pencarian identitas diri dan
pendewasaan diri itu tidak boleh berhenti, harus bergerak evolutif, Romo Mangun
Menunjukkan peziarah manusia yang mencari jadi diri itu dalam novelnya yang
ditulis tahun 1981, Burung-Burung Manyar.
Setadewa (Teto) dan Larasati (Atik) adalah dua manusia yang mencari identitas
kemanusiaanya. Pencarian identitas yang harus berbenturan dengan rekayasa
struktural yang membelenggu kemerdekaan jiwanya.
Pasca-Einstein
Perkembangan dunia melesat begitu
cepat sehingga menimbulkan berbagai tantangan dalam kehidupan manusia.
Perkembangan dunia yang demikian itu menuntut manusia harus peka zaman dan
terbuka pada nilai-nilai yang baru. Apalagi sejak munculnya Albert Einstein
(1879-1955) yang mengajarkan generasi muda tentang multidemensionalitas. Sehingga laporan-laporan pancaindera serta
buah imajinasi sehari-hari, yang memberi basis pengamatan serta macam-macam
penanganan operasional secara normal – artinya secara dimensi tiga, ternyata
harus mengikuthitungkan dimensi keempatnya, yakni waktu. Bahkan boleh jadi ikut
memperhitungkan dimensi-dimensi ke-5, ke-6, dan seterusnya. Akibatnya, sulitlah
sekarang bagi manusia pasca-Einstein untuk menganut pemahaman tradisional.
Dalam arti Romo Mangun, tidak ingin manusia berpikiran jalan rel atau aspal
yang berpikir lurus-lurus saja atau manusia Bermatra Tunggal.
Menurut Romo Mangun, seluruh
gambaran manusia tentang semseta rayamenjadi begitu relatif, begitu tergantung
pada pengandaian lokasi dan waktu, situasi dan asumsi, sehingga banyak perkara
sudah tidak sederhana lagi. Banyak pengertian yang begitu vital dan fundamental
seperti mutlak, universal, norma, batas, materi, energi dan sebagainya, bahkan
benar dan salah, menurut kodrat dan melawan kodrat, sesuai hukum alam dan tidak
sesuai dengan hukum alam, dan sebagainya, yang begitu lama dan mendalam kita
hayati serta kita jadikan bagi perilaku yang ideal dan yang seharusnya, menjadi
kabur. Banyak perkara akan membutuhkan koreksi bahkan revisi dalam alam pikir
dan cita rasa generasi baru yang sudah pasca-Einstein.
Istilah Pasca-Eintein – yang juga
disebut manusia Bermatra Gatra, ini diolah Romo Mangun dari teori Relativitas
Albert Einstein. Teori itu dilontarkan Einstein pada tahun 1905. Menurutnya,
setiap hal (kecuali cahaya) melaju dengan kecepatan berbedatergantung situasi
yang berbeda.
Melalui teori relativitas itu,
Romo Mangun Melontarkan Konsep Pasca Einstein, yang mengajak segenap generasi
muda untuk bersikap menurutdinamika relativitas, dengan tidak main
mutlak-mutlakan, karena segala sesuatu bersifat relatif. Generasi muda harus
meluaskan horizonnya dengan berpikir kreatif, eksploratif, inklusif,
pluralistik. Hidup ini multidimensional (bermatra gatra). Jika satu jalan yang
ditempuh gagal, orang wajib mencoba jalan lain. Artinya Romo Mangun ingin
menunjukkan bahwa hidup ini penuh dengan kemungkinan. Menurut Romo Mangun
konsep Pasca-Einstein itu ditandai juga dengan paradigma berpikir nggiwar (berpikir lateral/ latera thingking).
Sebenarnya antara konsep
Pasca-Einstein dengan berpikir lateral/ nggiwar
dapat dibedakan. Parbedaan tersebut adalah berpikir lateral menekankan
bagaimana manusia menyelesaikan suatu
masalah, sedangkan Pasca-Einstein atau bermatra-gatra menekankan manusia menanggapi suatu maslah.
Manusia Pasca-Einstein atau
manusia Bermatra-Gatra, Menurut Romo Mangun sosoknya dapat ditemukan pada
Generasi 1928 yang merupakan pencetus dan penggerak kemerdekaan Indonesia.
Keberhasilan generasi 1928 bukan karena otot, melainkan karena intelegensi,
kebijaksanaa, dan kemampuannya untuk berpikir lateral.
Bahwa pendidikan selalu bertolah
dari humanisme kiranya bukan hal yang asing. Driyarkara mengatakan bahwa tujuan
pendidikan dalah “pemanusiaan manusia”, melalui proses “humanisasi” dan
“hominisasi”atau dengan risngkas disebut sebagai pendidikan humaniora. Demikian pun keyakinan Romo
Mangun, “setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan
citra manusianya yang dianut, sehingga tidak pernah netral”. Maka, visi
seseorang tentang manusia, sangat menentukan visi pendidikannya dan berpengaruh
dalam uraiannya; apakah ia penganut faham pesimis ataukah optimistis tentang
masa depan manusia, apakah ia religius atau sekuler dan sebagainya. Oleh karena
itu perlulah disini meulai dengan melihat visi kemanusiaan Romo Mangun, untuk
sampai pada visi pendidikannya.
Faham kemanusiaan Romo Mangun
boleh dikatakan tak terlepas dari faham religiositas. Religius disini tidak
harus diartikan sebagai pemeluk agama tertentu, melainkan adanya kecenderungan
dan kesadaran akan yang ilahi, yang mengatasi kekecilan manusia atau rasa
kemakhlukan (creature-feeling), atau
rasa ketergantungan (feeling of
dependence) pada sesuatu yang lain. Dan dalam arti ini bisa diperdebatkan
apakah seorang atheis (Tidak percaya akan Tuhan) mesti berlawanan dengan
relgiositas, sebab bisa saja seorang religius, meskipun tidak beragama. Bagi
Romo Mangun hal demikian tidak mustahi, karena sifat manusia yang religius itu.
Isu yang menjadi keprihatinan Romo Mangun bukanlah soal dialog agama, atau
pembicaraan tentang perbedaan ajaran agama-agama yang satu dengan yang lain,
melainkan bagaimana mereka bekerja sama dalam berbagai macam bidang, dengan
semangat kemanusiaan yang sama, merasakan keprihatinan yang sama sebagai
manusia yang kecil.
Faham humanisme religius ini juga
tampak dalam penghayatan Romo Mangun sebagai pastor, yang tidak konvensional.
Panggilan imamatnya berakar dan diinspirasikan oleh daya tarik rakyat miskin,
dan bukan panggilan kegerejaan/ keagamaan semata sebagaimana kebanyakan pastor.
Ia ingin menjadi pastor, karena terharu pada partisipasi rakyat rakyat dalam
perang gerilya, dan ia ingin “membayar utang kepada rakyat”. Mudah dipahami
kalau dedikasinya sebagai pastor juga tidak terbatas pada pelayanan gerejani
melainkan pada sosialitas umum, pembelaan kaum miskin, - hal ini disetujui oleh
uskup sebagai atasannya. Lebih lanjut religiositas yang melebar ini ia
tunjukkan dalam keinginannya untuk bekerjasama dalam agama lain.
Iman Kristennya, jabatan imamnya,
hanyalah titik tolak, sedang tujuannya adalah kemanusiaan umum. Maka, baginya
agama lain bukan menjadisaingan apalagi musush, melainkan teman kerja, kolega
di dalam membangun kemanusiaa, khususnya dalam melayani rakyat yang miskin. Hal
ini tampak misalnya dalam aksinya dalam membela masyarakat Kali Code atau
Korban Waduk Kedungombo.
Mangunwijaya tidak memberikan
uraian komprehensif tentang visi humanisme religius; ia tidak memaparkan secara
khusus atau memberikan rumusan tentang visinya itu, tetapi hal itu dengan mudah
bisa kita tangkapdari penghayatan hidupnya dan dari karangan-karangannya.
Demikian pun pandangan dalam hal pendidikan yang mengarah pada persaingan dan
mengangkat pendidikan, lebih bersifat visioner dan profetis, mengkritik
pendidikan yang mengarah pada persaingan dan mengangkat pendidikan yang
membangun kerjasama.
Dengan demikian, tugas pendidikan
menurut Romo Mangun, adalah mengantar dan menolong anak untuk mengenal dan
mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadimanusia yang mandiri, dewasa,
utuh, merdeka, bijaksana, humanis, dan mampu menjadi sosok Pasca-Indonesia dan
Pasca-Einstein, sekaligus peduli dan solider pada sesama manusia. Bukan sekedar
menjadi kepingan yang serba pasra kepada “mesin besar” yang tidak diketahui
susunannya dan arahnya.
Dalam satu karangan yang panjang
dalam majalah Basis
(Januari-Februari, nomor 47, 1998) Romo Mangun mengutarakan gagasannya tentang
pendidikan yang komprehensif, yang secara ringkas boleh dirumuskan, bahwa
pendidikan itu bersifat multidimensional, berdimensi banyak. Pertama-tama harus
dikatakan, (i) pendidikan haruslah terbuka ke arah masa depan, mencerahkan dan
mengembangkan kebaruan, melawan status
quo atau melawan reproduksi dan penerusan ide-ide lama, yang oleh Romo
Mangun disebut sekedar “sosialisasi”, sebagaimana dianut kaum feodal dan Orde
Baru. Bercermin dari angkatan 1928, (ii) pendidikan harus mencerdaskan
kehidupan dengan memberi kebebasanpada para anak didik. Mereka bukan “tabula
rasa” yang harus diisi dengan komando, pediktean, pendisiplinan top-down gaya militer. Romo Mangun
banyak mengkritik gaya pemerintah yang bersifat penyeragaman, brainwashing, formal, dan birokratis,
dan kurang memberi ruang bagi kreatifitas anak didik dan menekan kreatifitas,
eksplorasi, penyadaran, dan pengaturan diri. Untuk itu (iii) perlu perbaikan
sistem pendidikan, hubungan guru murid harus dipebaiki dalam situasi
kekeluargaan dan hidup bersama (convivium),
pola pendidikan haus memberi lebih banyak peluang untuk anak didik dalam
mengungkapkan pengalaman mereka, membina kerjasama (dan bukan persaingan) dalam
kelompok.
Sumber:
Forum Mangun Wijaya. 2015. Humanisme Y.B. Mangun Wijaya. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Hal:
28-39