Rabu, 16 Maret 2016

Konsep Manusia Menurut Y.B. Mangun Wijaya: Manusia Pasca-Indonesia atau Pasca-nasional dan Pasca-Einstein



Konsep manusia yang dikembangkan Romo mangun tidak dapat dilepaskan dari perjalanan hidupnya, Romo mangun menemukan bahwa yang selalu menjadi korban oleh pihak yang yang lebih kuat dalam masa kemerdekaan maupun pembangunan adalah rakyat kecil, khusunya yang miskin, terlebih perempuan dan anak-anak. Dalam novel Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa Romo mangun menunjukkan bahwa rakyat kecil lah yang selalu menjadi tumbah dalam proses sejarah. Tokoh Oti dan Leomadara adalah sosok rakyat kecil atau ikan homa yang menjadi tumbal bagi ikan-ikan Ido yang lebih besar, yang kelak pada akhirnya ikan Ido pun akan disantap oleh ikan-ikan Hiu yang buas dan serakah. Inilah Darwinisme sosial tersebut, siap yang kuat dialah yang menang.
Y.B. Mangun Wijaya menghayati hidup dan seluruh karyanyasebagai karya kemanusiaan dalam arti yang luas. Sedangkan bentuk=bentuk karya spesifiktertentu yang digelutinya, khususnya sebagai pastor desa di Salam, kabupaten Magelang (dsawarsa tujuh puluhan), sebagai dosen luar biasa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM (1967-1980), arsitek independen (1967-1999), kolumnis berbagai koran dan majalah (1968-1999), novelis (1972-1999), pekerja sosial di tepi Kali Code, Yogyakarta, dan Grigak, Gunung Kidul (1980-1986), pendamping warga korban pembangunan Waduk Kedungombo, Jawa Tengah (1986-1994), dan pendamping anak-anak miskin terlantar dalam Yayasan dana Sayang Anak Derita (Dayang Arita) Santa Elisabeth di Mangunan (1995/6-1999), semua itu dihayatinya sebagai jalur-jalur operasional untuk mewujudkan karya pendidikannya pada berbagai dimensi kehidupan bangsa.
Menurut Mangunwijaya, konsep manusia yang ingin dikembangkannya adalah manusia yang humanis. Namun, pembentukan manusia yang humanis itu terbentur oleh budaya feodalisme yang sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat indonesia. Untuk itu, ia menawarkan sebuah konsep manusia humanis yang terbebas dari belenggu-belenggu feodalisme, baik feodalisme khas Jawa maupun warisan politik kolonial. Romo Mangun menamakankonsep manusia humanis itu dengan istilah manusia Pasca-Indonesia atau Pasca-Nasional dan Pasca-Einstein.
Pasca-Indonesia atau Pasca-Nasional
Romo mangun menempatkan nation dan nasionalisme modern dalam konteks evolusi bangsa manusia. Secara garis besar perkembangan interaksi anatarmanusia di dalam kelompok dan di luar kelompok dapat dimulai dari bentuk komunal sangat sederhana dalam kerangka dusun yang tertutup, yang kemudian semakin terbukadalam fase-fase evolusi yang berakselerasi ke hubungan lokal atau regional. Sistem suku kemudian mengalami proses penghayatan yang lebih meluas lagi, pascasuku, yang semakin mengonsolidasi diri dalam kerajaan atau susunan feodalisme, yang variasinya berbentuk banyak, tetapi esensinya sama.
Menurut romo Mangun, kebudayaan pascasuku tumbuh dari perubahan ekspansi budaya, pemburu, nelayan, dan pengembara yang berevolusi ke budaya agraris yang menetap, dari kebupatian sampai ke kerajaan besar. Ekspresi feodal agraris itu disusul oleh struktur industri dan perdagangan inter-regional inter-benua dalam bentuk republik-republik kota regional maupun nasional. Kerajaan adalah ekspresi sekaligus insfrastruktur yang timbul selaku “keharusan perkara” (sachzwang) dari budaya agraris, sedangkan republik atau kerajaan konstistusional yang kini merupak bentuk yang dominan adalah ekspresi sekaligus infrastruktur dari budaya insdustri dengan sistem  perdagangannya yang khas.
Nasionalisme Indonesia di masa mendatang, menurut pandangan Romo Mangun, akan kembali berkembang ke akar-akarnya yang sejak awal mula dicita-citakan oleh Generasi 1928, yakni kembali ke alur hakikat semulanya yang murni, yakni pembelaan kawan manusia yang masih dijajah, yang masih miskin dalam segala hal.yang termasuk miskin kemerdekaan dan penentuan diri sendiri, menolong manusia yang tidak berdaya menghadapi para kuasa yang sewenang-wenang, yang telah merebut bumi hak pribadinya dan yang memaksakan kebudayaan serta seleranya kepada si kalah. Hanya bedanya dulu suasananya serba bendera nasional, jadi selalu menghadap ke lawan asing di luar. Sedangkan dalam kebudayaan pasca-Indonesia dalam konteks sekarang ini, lawannya adalah perlakuan-perlakuan yang dehumanis.
Sedangkan istilah Pasca-Nasionalisme atau Pasca-Indonesia harus dimengerti dalam konteks kesejarahannya. Kata pasca – menurut Romo Mangun, jauh lebih baik dan lebih bermakna daripada kata bahas inggris post. Romo Mangun mencontohkan bahwa kata post hanya menunjuk pada arti sesudah, belum menyatakan kontinuitas maupun diskontinuitas. Seorang pascasarjana bukan seseorang yang sesudah menjadi sarjana. Dia tetap sarjana, tetapi lebih luas pandangannya, lebih banyak dimensinya, lebih dalam visinya, dan lebih dewasa. Seperti kupu-kupu itu bukan post kepompong, tetapi lebih meningkat, lebih terbang walaupun identitasnya sama. Konsep Pasca-Nasional mencita-citakan sosok manusia Indonesia yang terbuka kepada nilai-nilai kemanusiaan universal, meskipun tetap tetap berpegang kepada nilai-nilai keindonesiaan.
Zaman Pasca-Nasional atau Pasca-Indonesia yang dilontarkan Romo mangun terjadi jika seluruh totalitas aktivitas serta galaksi pengentalan seluruh ikhtiar manusia untuk menjawab tantangan hidupnya, mengolahnya dan memberi makna kepadanya dipahami sebagai upaya menciptakan kebudayaan yang humanis.
Bagi Romo Mangun hidup adalah perjalanan evolusi raya dari geosfer atau pembentukan bumi, ke biosfer atau pembentukan organisme termasuk manusia, dan ke noosfer atau pembentukan lapisan kesadaran yang terus berlangsung hingga kini. Dalam evolusi noosferik sendiri manusia sedang mengalami emansipasi ke arah kesejatian kemanusiaannya semakin utuh, dari tahap kesadaran diri yang individualistik-hierarkik-eksploitatif ke arah kesadaran hidup bersama yang demokratik-egalitarian-adil, yang ditandai dengan terkikisnya dari muka bumi ini struktur-struktur yang buas menindas, digantikan oleh struktur-struktur yang beradab dan berkeadilan.
Menurut Romo Mangun, di bawah rezim Orde Baru, Indonesia mengalami kemajuan ekonomi yang pesat, namun dipandang dari perubahan struktur, Indonesia mengalami kemunduran. Berbeda dengan generasi angkatan Angkatan 1928 yang merupakan “manusia-manusia baru” yang mengalami pencerahan, berkat gagasan-gagasan sosialisme dan humanisme universal, para pemimpin Orde Baru tidak pernah mengalami pencerahan tersebut. Sebaliknya, mereka dibentuk oleh semangat “fasisme” dan “militerisme” selama pendudukan Jepang (1942-1945) yang membanggakan warisan nenek moyang. Di bawah Soeharto, Indonesia mundur di zaman pra Kebangkitan Nasional (1908), yakni berkuasanya struktur-struktur feodal, primordial, tradisional (dalam bentuk militerisme) dan (neo) kapitalisme-imperialisme-kolonialis (dalam bentuk modal-modal, bantuan-bantuan, pinjaman-pinjaman dari negara kaya).
Dalam novel simbolis Durga Umayi, Romo Mangun menunjukkan bahwa wajah generasi-generasi di republik ini bisa sewaktu-waktu bertukar wajah dari humanis (Umayi) menjadi dehumanis (Durga). Penguasaan Orde Baru berkhianat terhadap cita-cita luhur angkatan 1928, mengorbankan rakyat kecil yang semestinya dilindunginya.
Romo Mangun menganggap bahwa pendidikan masa Orde Baru tidak meghasilkan “manusia-manusia baru” sehingga permasalah bangsa Indonesia di bawah Orde Baru  sama dengan angkatan 1928. Untuk itu bagi Mangunwijaya, pendidikan harus ditempatkan dalam kerangka evolusi ini, yaitu upaya mengantar murid, bangsa, bahkan umat manusia ke arah pendewasaan diri: teremansipasi, merdeka, humanis dan sanggup bertanggungjawab sendiri. Proses pencarian identitas diri dan pendewasaan diri itu tidak boleh berhenti, harus bergerak evolutif, Romo Mangun Menunjukkan peziarah manusia yang mencari jadi diri itu dalam novelnya yang ditulis tahun 1981, Burung-Burung Manyar. Setadewa (Teto) dan Larasati (Atik) adalah dua manusia yang mencari identitas kemanusiaanya. Pencarian identitas yang harus berbenturan dengan rekayasa struktural yang membelenggu kemerdekaan jiwanya.
Pasca-Einstein
Perkembangan dunia melesat begitu cepat sehingga menimbulkan berbagai tantangan dalam kehidupan manusia. Perkembangan dunia yang demikian itu menuntut manusia harus peka zaman dan terbuka pada nilai-nilai yang baru. Apalagi sejak munculnya Albert Einstein (1879-1955) yang mengajarkan generasi muda tentang multidemensionalitas. Sehingga laporan-laporan pancaindera serta buah imajinasi sehari-hari, yang memberi basis pengamatan serta macam-macam penanganan operasional secara normal – artinya secara dimensi tiga, ternyata harus mengikuthitungkan dimensi keempatnya, yakni waktu. Bahkan boleh jadi ikut memperhitungkan dimensi-dimensi ke-5, ke-6, dan seterusnya. Akibatnya, sulitlah sekarang bagi manusia pasca-Einstein untuk menganut pemahaman tradisional. Dalam arti Romo Mangun, tidak ingin manusia berpikiran jalan rel atau aspal yang berpikir lurus-lurus saja atau manusia Bermatra Tunggal.
Menurut Romo Mangun, seluruh gambaran manusia tentang semseta rayamenjadi begitu relatif, begitu tergantung pada pengandaian lokasi dan waktu, situasi dan asumsi, sehingga banyak perkara sudah tidak sederhana lagi. Banyak pengertian yang begitu vital dan fundamental seperti mutlak, universal, norma, batas, materi, energi dan sebagainya, bahkan benar dan salah, menurut kodrat dan melawan kodrat, sesuai hukum alam dan tidak sesuai dengan hukum alam, dan sebagainya, yang begitu lama dan mendalam kita hayati serta kita jadikan bagi perilaku yang ideal dan yang seharusnya, menjadi kabur. Banyak perkara akan membutuhkan koreksi bahkan revisi dalam alam pikir dan cita rasa generasi baru yang sudah pasca-Einstein.
Istilah Pasca-Eintein – yang juga disebut manusia Bermatra Gatra, ini diolah Romo Mangun dari teori Relativitas Albert Einstein. Teori itu dilontarkan Einstein pada tahun 1905. Menurutnya, setiap hal (kecuali cahaya) melaju dengan kecepatan berbedatergantung situasi yang berbeda.
Melalui teori relativitas itu, Romo Mangun Melontarkan Konsep Pasca Einstein, yang mengajak segenap generasi muda untuk bersikap menurutdinamika relativitas, dengan tidak main mutlak-mutlakan, karena segala sesuatu bersifat relatif. Generasi muda harus meluaskan horizonnya dengan berpikir kreatif, eksploratif, inklusif, pluralistik. Hidup ini multidimensional (bermatra gatra). Jika satu jalan yang ditempuh gagal, orang wajib mencoba jalan lain. Artinya Romo Mangun ingin menunjukkan bahwa hidup ini penuh dengan kemungkinan. Menurut Romo Mangun konsep Pasca-Einstein itu ditandai juga dengan paradigma berpikir nggiwar (berpikir lateral/ latera thingking).
Sebenarnya antara konsep Pasca-Einstein dengan berpikir lateral/ nggiwar dapat dibedakan. Parbedaan tersebut adalah berpikir lateral menekankan bagaimana manusia menyelesaikan suatu masalah, sedangkan Pasca-Einstein atau bermatra-gatra menekankan manusia menanggapi suatu maslah.
Manusia Pasca-Einstein atau manusia Bermatra-Gatra, Menurut Romo Mangun sosoknya dapat ditemukan pada Generasi 1928 yang merupakan pencetus dan penggerak kemerdekaan Indonesia. Keberhasilan generasi 1928 bukan karena otot, melainkan karena intelegensi, kebijaksanaa, dan kemampuannya untuk berpikir lateral.
Bahwa pendidikan selalu bertolah dari humanisme kiranya bukan hal yang asing. Driyarkara mengatakan bahwa tujuan pendidikan dalah “pemanusiaan manusia”, melalui proses “humanisasi” dan “hominisasi”atau dengan risngkas disebut sebagai pendidikan humaniora. Demikian pun keyakinan Romo Mangun, “setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan citra manusianya yang dianut, sehingga tidak pernah netral”. Maka, visi seseorang tentang manusia, sangat menentukan visi pendidikannya dan berpengaruh dalam uraiannya; apakah ia penganut faham pesimis ataukah optimistis tentang masa depan manusia, apakah ia religius atau sekuler dan sebagainya. Oleh karena itu perlulah disini meulai dengan melihat visi kemanusiaan Romo Mangun, untuk sampai pada visi pendidikannya.
Faham kemanusiaan Romo Mangun boleh dikatakan tak terlepas dari faham religiositas. Religius disini tidak harus diartikan sebagai pemeluk agama tertentu, melainkan adanya kecenderungan dan kesadaran akan yang ilahi, yang mengatasi kekecilan manusia atau rasa kemakhlukan (creature-feeling), atau rasa ketergantungan (feeling of dependence) pada sesuatu yang lain. Dan dalam arti ini bisa diperdebatkan apakah seorang atheis (Tidak percaya akan Tuhan) mesti berlawanan dengan relgiositas, sebab bisa saja seorang religius, meskipun tidak beragama. Bagi Romo Mangun hal demikian tidak mustahi, karena sifat manusia yang religius itu. Isu yang menjadi keprihatinan Romo Mangun bukanlah soal dialog agama, atau pembicaraan tentang perbedaan ajaran agama-agama yang satu dengan yang lain, melainkan bagaimana mereka bekerja sama dalam berbagai macam bidang, dengan semangat kemanusiaan yang sama, merasakan keprihatinan yang sama sebagai manusia yang kecil.
Faham humanisme religius ini juga tampak dalam penghayatan Romo Mangun sebagai pastor, yang tidak konvensional. Panggilan imamatnya berakar dan diinspirasikan oleh daya tarik rakyat miskin, dan bukan panggilan kegerejaan/ keagamaan semata sebagaimana kebanyakan pastor. Ia ingin menjadi pastor, karena terharu pada partisipasi rakyat rakyat dalam perang gerilya, dan ia ingin “membayar utang kepada rakyat”. Mudah dipahami kalau dedikasinya sebagai pastor juga tidak terbatas pada pelayanan gerejani melainkan pada sosialitas umum, pembelaan kaum miskin, - hal ini disetujui oleh uskup sebagai atasannya. Lebih lanjut religiositas yang melebar ini ia tunjukkan dalam keinginannya untuk bekerjasama dalam agama lain.
Iman Kristennya, jabatan imamnya, hanyalah titik tolak, sedang tujuannya adalah kemanusiaan umum. Maka, baginya agama lain bukan menjadisaingan apalagi musush, melainkan teman kerja, kolega di dalam membangun kemanusiaa, khususnya dalam melayani rakyat yang miskin. Hal ini tampak misalnya dalam aksinya dalam membela masyarakat Kali Code atau Korban Waduk Kedungombo.
Mangunwijaya tidak memberikan uraian komprehensif tentang visi humanisme religius; ia tidak memaparkan secara khusus atau memberikan rumusan tentang visinya itu, tetapi hal itu dengan mudah bisa kita tangkapdari penghayatan hidupnya dan dari karangan-karangannya. Demikian pun pandangan dalam hal pendidikan yang mengarah pada persaingan dan mengangkat pendidikan, lebih bersifat visioner dan profetis, mengkritik pendidikan yang mengarah pada persaingan dan mengangkat pendidikan yang membangun kerjasama.
Dengan demikian, tugas pendidikan menurut Romo Mangun, adalah mengantar dan menolong anak untuk mengenal dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadimanusia yang mandiri, dewasa, utuh, merdeka, bijaksana, humanis, dan mampu menjadi sosok Pasca-Indonesia dan Pasca-Einstein, sekaligus peduli dan solider pada sesama manusia. Bukan sekedar menjadi kepingan yang serba pasra kepada “mesin besar” yang tidak diketahui susunannya dan arahnya.
Dalam satu karangan yang panjang dalam majalah Basis (Januari-Februari, nomor 47, 1998) Romo Mangun mengutarakan gagasannya tentang pendidikan yang komprehensif, yang secara ringkas boleh dirumuskan, bahwa pendidikan itu bersifat multidimensional, berdimensi banyak. Pertama-tama harus dikatakan, (i) pendidikan haruslah terbuka ke arah masa depan, mencerahkan dan mengembangkan kebaruan, melawan status quo atau melawan reproduksi dan penerusan ide-ide lama, yang oleh Romo Mangun disebut sekedar “sosialisasi”, sebagaimana dianut kaum feodal dan Orde Baru. Bercermin dari angkatan 1928, (ii) pendidikan harus mencerdaskan kehidupan dengan memberi kebebasanpada para anak didik. Mereka bukan “tabula rasa” yang harus diisi dengan komando, pediktean, pendisiplinan top-down gaya militer. Romo Mangun banyak mengkritik gaya pemerintah yang bersifat penyeragaman, brainwashing, formal, dan birokratis, dan kurang memberi ruang bagi kreatifitas anak didik dan menekan kreatifitas, eksplorasi, penyadaran, dan pengaturan diri. Untuk itu (iii) perlu perbaikan sistem pendidikan, hubungan guru murid harus dipebaiki dalam situasi kekeluargaan dan hidup bersama (convivium), pola pendidikan haus memberi lebih banyak peluang untuk anak didik dalam mengungkapkan pengalaman mereka, membina kerjasama (dan bukan persaingan) dalam kelompok.
Sumber:
Forum Mangun Wijaya. 2015. Humanisme Y.B. Mangun Wijaya. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Hal: 28-39