Rabu, 24 Februari 2016

Konsep Manusia Menurut Kebudayaan Barat


Menurut Romo mangun salah satu buah kolonialisme di Indonesia yang positif ialah rontoknya pandangan tentang konsep manusia dan pendidikan feodal model kebudayaan Jawa. pendidikan Barat yang datang itu telah mengalami metamorfosa dari manusia kolektivistis feodal-hierarkis ke manusia Renaissance dan Fajarbudai (aufklarung) dan telah terbebas dari masa kegelapan abad-abad pertengahan, yang menempatkan manusia hanya sebagai obyek kekuasaan para bangsawan. Kebudayaan barat menekankan bahwa tujuan hidup fana tidak lagi hanya selaku persiapan melulu ke dunia akhirat, akan tetapi dihargai sebagai tujuan intrinsik dan sejati pada dirinya, tanpa harus mengingkari nilai hidup akhirat.
Metamorfosa filsafat manusia dengan konsep serta citra manusia yang manusiawi diharapkan semakin manusiawi lagi (humanior) berasal dari pandangan manusia sebagai citra Tuhan (jadi ko-kreator) dalam bahasa Hibrani, sementara benihnya telah ditanam di Indonesia oleh agama Islam yang berakar sama dengan kaum Nasrani pada imam Nabi Ibrahim, yang nantinya diekspresikan dalam pancasila yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno, seorang pribadi tokoh yang dalam porsi amat besar adalah hasil pendidikan Barat humanis juga.
Di barat diakuui umum bahwa bapak filsafat dan gerakan pendidikan modern (antifeodal anti-otoriter) ialah Socrates(470-399 SM) yang mengajar bahwa setiap manusia dari dalam dirinya sudah HAMIL dengan kebenaran (truth). Guru pembina, pendamping, kita semua sebenarnya hanyalah BIDAN, yang memang harus aktif menolong, akan tetapi kelahiran bayi (kebenaran) dilakukan oleh si manusia atau anak yang bersangkutan itu sendiri.
Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), sebelum Revolusi Perancis, mengingatkan pula bahwa dalam pendidikan hendaknya manusia, dalam hal ini anak didik, haruslah ditanggapi sebagai anak, bukan sebagai orang dewasa berbentuk mini, dan bahwa pendidikan harus mulai dari situasi fitri kebaikan alamiah manusiawi (I'homme naturel). Dengan demikian pendidikan smestinya menjawab daya-daya afektif dan perangai dasar kemanusiawian (I'honnete homme) dalam diri si anak.
Menurut romo mangun, meskipun ada beberapa tesis fundamental tentang si anak dari Rousseau yang kurang realistik, terlalu romantis, tetapi sinyalemen dasarnya bahwa banyak anak justru dirusak perkembangan sehatnya oleh kaum dewasa dan masyarakat mempunyai inti yang benar. Sehingga tumbuhlah kemudian pemahaman tentang hakikat kehidupan dan penghayatan anak yang lebih benar (lebih manusiawi).
Sumber:
Forum Mangun Wijaya. 2015. Humanisme Y.B. Mangun Wijaya. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Hal: 24-25

Tidak ada komentar:

Posting Komentar