Rabu, 17 Januari 2018

Apakah Filsafat Itu?

Orang mengatakan bahwa filsafat ‘tidak membuat roti’. Ucapan ini sepenuhnya benar. Filsafat tidak memberi petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak melukiskan teknik-teknik baru untuk membuat bom atom. Sebenarnya jika di dalam filsafat anda mencari jawaban yang terakhir terhadap persoalan yang anda hadapi, yakni jawaban yang disepakati oleh semua filsuf sebagai hal yang benar, maka anda akan kecewa dan bersedih hati. Setelah lama mempelajarinya, anda dapat mulai menyusun suatu sistem filsafat yang di dalamnya anda dapat menempatkan persoaln-persoalan yang anda hadapi dan memberikan jawaban-jawaban yang kiranya sah.
Anda pun juga menjadi terbiasa mengadakan penalaran-penalaran secara tetap, dan memurnikan pikiran-pikiran secara tetap pula, sehingga anda akan siap mendapati bahwa penyelesaian anda sering tidak memadai dan bersifat sementara, serta tidak diterima oleh banyak orang.
Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan. Meskipun filsafat ‘tidak membuat roti’, namun filsafat dapat menyiapkan tungkunya, menyisihkan noda-noda dari tepungnya, menambah jumlah bumbunya secara layak dan mengangkat roti itu dari tungku pada waktu yang tepat. Secara sederhana hal ini berarti bahwa tujuan filsafat adalah menumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, dan menertibkan serta mengatur semua itu di dalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak.
Saya akan memberikan gambaran dengan sebuah contoh klasik. Lama berselang pada tahun 399 SM, Socrates dihukum mati atas tuduhan merusak jiwa kaum muda di Athena. Ia harus mati dengan meminum racun pada suatu hari tertentu. Tetapi socrates mempunyai banyak teman kaya-raya yang mengambil keputusan bahwa, karena menurut hemat merekaSocrates dihukum secara salah, maka mereka akan membantunya untuk melarikan diri. Merekapun bersedia menyuap pengawal penjara dan membujuk Socrates agar melarikan diri.
Bagi manusia praktis, pastilah ia akan berkeinginan untuk meninggalkan penjara secepat mungkin.tetapi tidak demikian halnya dengan Socrates. Kepada kawan-kawannya ia berkata bahwa sebelum ia mau menerima tawaran mereka, perlu ditentukan terlebih dahulu apahak perbuatan melarikan diri itu layak baginya. Nah, inilah ucapan seorang filsuf. Ia duduk dengan teman-temannya untuk membicarakan masalah itu. Secara hati-hati diajukan alasan-alasan bagi pelarian dirinya. Dengan sikap hati-hati yang sama, Socrates meneliti alasan-alasan tersebut dan mengajukan alasan-alasan lain yang tidak menyetujui ia melarikan diri.
Akhirnya, teman-temannya sepakat bahwa tidaklah tepat bagi Socrates untuk melarikan diri. Pada saat itulah pembicaraan kefilsafatan berakhir. Socrates bertindak. Tindakannya didasarkan atas pemikirannya, tetapi tindakan itu tidak merupakan bagian dari pemikiran tersebut. Socrates tetap tinggal di penjara, dan ia pun . . . meminum racun.
Keinginan kefilsafatan ialah pemikiran secara ketat. Contoh diatas menunjukkan bahwa filsafat berbeda sama sekali dengan membuat roti. Filsafat merupakan suatu analisa secara hati-hati terhadap penalran-penalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunan secara sengajaserta sistematis atas suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan. Dan hendaknya diingat bahwa kegiatan yang kita namakan kegiatan kefilsafatan itu sesungguhnya merupakan perenungan atau pemikiran.
Pemikiran jenis ini berupa meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan lainnya, menanyakan “mengapa”, mencari jawaban yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang tersedia pada pandangan pertama. Filsafat sebagi perenungan mengusahakan ‘kejelasan’, ‘keruntutan’ dan ‘keadaan memadai’ dan ‘pemahaman’ tersebut?
Sejumlah makna khusus yang dikandung istilah ‘filsafat’. Sebelum mencoba menjelakan makna-makna yang dikandung istilah-istilah tadi, marilah kita tinjau beberapa pengertian lainyang dikandung filsafat. Pada suatu hari ketika mengunjungi seorang dokter, saya harus menunggu karena dokter tersebut sedang merawat pasien lain yang kehilangan penglihatan. Beberapa saat kemudian saya berkata pada dokter tadi, “Saya kira saya tidak akan dapat menjadi dokter yang baik, karena orang sakit membuat saya merasa sedih dan gundah.” Dokter itu tersenyum dan menjawab, “Sudahlah, anda ini seorang filsuf, seharusnya anda memandang segala sesuatu secara kefilsafatan.”
Ucapan ini mempunyai makna yang sama dengan apa yang dikandung oleh ucapan seseorang yang berkata, “Pandanglah nasib malang itu secara kefilsafatan.” Orang yang berbicara demikian itu memiliki maksud bahwa seharusnya anda tidak memprihatinkan sesuatu, malinkan terimalah sesuatu secara biasa. Dengan makna yang sama, orang sering mengatakan, “Seribu tahun yang akan datang, siapakah yang akan memperhatikan: apakah anda membaca atau tidak membaca halamn-halamn buku ini?” Dari sini ada tiga hal yang bisa ditunjukkannya:
  1. Sikap acuh tak acuh;
  2. Menekan perasaan;
  3. Ketiadaan sifat penting.

Seorang filsuf dianggap sebagai orang yang memandang segala sesuatu ‘dari sudut keabadian’, dan karenanya menemukan ketiadaan sifat pentingnya segala sesuatu; atau dianggap sebagai orang yang memandang manusia sebagai sesuatu yang tidak berarti, dan karenanya bersikap acuh tak acuh terhadap segala hal.
Maka ada gambaran bahwa seorang filsuf merupakan ‘mesin yang berpikir’ tanpa suatu perasaan apapun. Apa yang dilupakan ialah, bahwa mereka yang memandang seorang filsuf dalam hubungan yang demikian ini – dan karenanya memandang filsafat sebagai sesuatu yang membawa orang kepada sifat yang demikian itu – sesungguhnya tidaklah berbicara tentang filsafat, melainkan tentang filsafat yang khusus. Ada filsafat yang cenderung memuja akal. Ada sistem-sistem filsafat yang didasarkan pada pandangan yang mengutamakan kehendak. Dan dewasa ini ada sistem filsafat yang menegaskan bahwa pengetahuan yang mendalam dalam arti yang sebenarnya diperoleh melalui perasaan. Dengan cara yang sama, banyak filsuf memberikan tekanan pada ketiadaan sifat pentingnya manusia, tetapi para filsuf yang lain menegaskna tentang keunggulan manusia. Nanti kit akan berkenalan dengan penyelesaian-penyelesaian tersebut dan dapat melihat dimanakah letak kesalahan penyelesaian-penyelesaian tadi.
Filsafat merupakan pemikiran secara sistematis. Kegiatan kefilsafatan adalah merenung. Tetapi merenung bukanlah melamun, juga bukan berpikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan. Perenungan kefilsafatan ialah, percobaan ialah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai untuk mamahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri kita sendiri. Perenungan kefilsafatan dapat merupakan karya karya satu orang yang dikerjakannya sendiri, ketika ia dengan pikirannya berusaha keras menemukan alasa dan penjelasan dengan cara semacam bertanya kepada diri sendiri. Atau perenungan itu dapat pula dilakukan oleh dua atau lebih dari dalam suatu percakapan ketika mereka melakukan analisa, melakukan kritik dan menghubungkan pikiran mereka secara timbal balik.
Biarpun sebagian besar sistem-sistem filsafat yang besar, misalnya sistem filsafat Aristoteles yang hidup pada abad IV SM atau sistem Hegel (1770-1831), merupakan karya-karya perseorangan, namun sistem-sistem tersebut menunjukkan adanya saling pertukaran yang ajek dengan pikiran serta kritik orang lain. Sesungguhnya tidak ada filsafat yang disusun dari ketiadaan dan tanpa hal-hal yang mendahuluinya yang telah dipelajarinya, dan oleh rekan-rekan semasa hidupnya yang mengajukan kritik terhadapnya. Sejumlah karya kefilsafatan yang besar tertulis sebagi dialog, yakni dalam bentuk percakapan di antara dua orang atau lebih \, yang memiliki penyelesaian-penyelesaian yang berupa alternatif, dan yang dengan pembicaraan secara rasional berusaha memperoleh kesimpulan yang memuaskan. Contoh-contoh karya semacam itu ialah dialog-dialog yang ditulis oleh Plato, sang tkoh abadi (427-347 SM), dan lama kemudian sejumlah karya filsuf Britania yang termasyhur, Uskup Berkeley (1685-1753).
Perenungan kefilsafatan ialah sejenis percakapan yang dilakukan dengan diri sendiri atau dengan orang lain. Itulah sebabnya, mengapa seorang filsuf tampak selalu berhubungan dengan polemik, dan tampak lebih menaruh perhatian kepada usaha merusak dan menentang dibandingkan dengan usaha membangun. Dalam arti tertentuperenungan kefilsafatan dapat dipandang sebagai pertentangan diantara alternatif-alternatif yang masing-masing berpegangan pada unsur atau segi yang penting dan kemudian mencoba untuk mengujinya pada pengalaman, kenyataan empirik, dan akal. Halini mudah ditunjukkan dalam masalah filsafat pengetahuan.
Ada yang berpendirian bahwa pengetahuan diperoleh hanya melalui pengalaman, dan ada yang berpendirian bahwa pengetahuan didapat hanya melalui akal. Yang terdahulu disebut ‘pengikut empiris’, yang terakhir dinamakan ‘pengikut rasionalisme’. Kedua pendirian ini dapat diuraikan sampai tercapai suatu sintetas. Soalnya ialah, uraian-uraian itu berusaha menyingkirkan kesalahan-kesalahan dan hal-hal yang tidak runtut, dengan maksud agar tercapai penyelesaian-penyelesaian yang lebih memadai.
Banyak filsuf sudah puas dengan sekedar mengejakan karya-karya rintisan bagi orang lain. Mereka sudah puas dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan dan hal-hal yang tidak runtut, dan menyerahkan pekerjaan untuk menciptakan sistem-sitem, seperti Hegel, kepada orang lain. Sebenarnya, memang lebih mudah untuk bersikap destruktif secara kritis, ketimbang bersikap kenstruktif secara koheren.

Pengantar Filsafat (halaman 3-7)
Lousi A. Kattsoff
Penerjemah: Soejono Soemargono
Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

2004, Cet. IX

Kamis, 04 Januari 2018

Hubungan Politik dan Pendidikan

Pendidikan dan politik adalah dua elemen penting dalam sistem sosial politik di setiap negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Keduanya sering dilihat sebagai bagian yang tak terpisah, yang satu sama lain tidak memiliki hubungan apa-apa. Padahal keduanya bahu-membahu dalam proses proses pembentukan karakteristik masyarakat di suatu negara. Lebih baik dari itu, keduanya satu sama lain saling menunjang dan saling mengisi. Lembaga-lembaga dan proses pendidikan berperan penting dalam membentuk perilaku politik masyarakat di negara tersebut.begitu juga sebaliknya, lembaga-lembaga dan proses politik itudi suatu negara membawa dampak besar pada karakteristik pendidikan di negara tersebut. Ada hubungan erat dan dinamis antara pendidikan dan politik di setiap negara. Hubungan tersebut adalah realitasemppiris yang telah terjadisejak awal perkembangan peradaban manusia dan menjadi perhatian para ilmuwan.
                Di dunia Islam, keterkaitan pendidikan dan politik terlihat jelas. Sejarah peradaban Islambanyak ditandai.selain karena faktor religius bahwa agama Islam sangat menjunjung aktifitas kependidikan, perhatian besar para pemimpin Islam terhadap masalah pendidikan didorong oleh besarnya peran lembaga-lembaga pendidikan dalam penyampaian misi-misi poliitik. Pendidikan sering dijadikan media dan wadah untuk menanamkan ideologi negara atau tulang yang menopang kerangka politik. Sjalabi mencatat bahwa Khalifah al-Makmun memolitisasi majelis munazharah di istananya dalam rangka menyebarkan paham Mu’tazilah yang merupakan mazhab resmi negara waktu itu. Puncak dari tindakan al-Makmun, menurut Sjalabi, adalah peristiwa inquisisi, yaitu penyelidikan atau interogasi (al-Mihna) terhadap para ulama dan pejabat penting. Kepada mereka ditnyakan apakah Al-Qur’an itu kadim atau hadits. (dikutip dalam Rsyid, 1994:16). Melalui inquisisi para ulama, pilar penopang lembaga pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan secara tidak langsung dipaksa menerima paham Mu’tazilah, ideologi resmi penguasa.
Pendidikan Islam tidak hanya berjasa menghasilkan para pejuang yang militan dalam memperluas peta politik, tetapi juga para ulama yang berhasil membangun masyarakat yang sadar hukum. Seiring dengan perluasan peta politik dan pertambahan pemeluk Islam, juga terjadi perkembangan (institusi) pendidikan dalam jumlah maupun varietasnya. Di dalam sejarah Islamtercatat bahwa pusat pendidikan yang petama kali muncul adalah rumah Arqam ibn Abi Arqam, yakni ketika nabi masih berada di  Makkah (Rasyid, 1994: 24). Selanjutnya pada masa Bani Umayah, lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut sudah lebih variatif dengan lahirnya Kuttab dan dijadikan rumah-rumah pembesar kerajaan sebagai tempat belajar.
Para penguasa Islam, Rasyid (1994: 33) menyimpulkan, senantiasa terlibat langsung dalam persoalan pendidikan. Menurutnya ada dua alasan utama mengapa para penguasa Muslim sangat peduli dengan pendidikan. Pertama, karena Islam adalah agama yang totaliter jam’i, mencakup semua aspek kehidupan seorang Muslim mulai dari makan dan minum, tata cara berumah tangga, urusan sosial kemasyarakatan, sampai pada ibadat semuanyadiatur oleh Syariat. Untuk mengetahui bagaimana hidup yang Islami, seorang muslim mesti terlibat dengan kegiatan pendidikan. Kedua, karena motivasi politik, sebab di dalam Islam antara politik dan agama sulit untuk dipisahkan. Para penguasa muslim sering menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menanamkan paham-paham keagamaan. Inilah yang dilakukan Dinasti Buwaih, Fatimiyah, dan Khilafah al-Makmun. Dengan kekuasaan mereka menanamkan ideologi negara dengan tujuanlahirnya kesamaan ide antara penguasa dan masyarakat umum sehingga memudahkan pengaturan masalah-masalah kenegaraan.
Di negara-negara Barat, kajian tentang hubungan antara pendidikan dengan politik dimulai oleh Plato dalam bukunya Republic.walaupun utamanya membahasberbagai persoalan kenegaraan, buku tersebut juga membahas hubungan antara ideologi dan institusi negara dengan tujuan dan metode pendidikan. Berikut ini adalah kesan mendalam Allan Bloom (1987: 380) tentang Republic:
For me [republic is] the book on education, because it really enplains to me what I experience as a man and a teacher, and I have almost always used it to point out what we should not hope for, as a teaching of moderation and resignation.
Plato mendemonstrasikan dalam buku tersebut bahwa dalam budaya Helenik, sekolah adalah salah satu aspek kehidupan yang terkait dengan lembaga-lembaga politik. Ia menjelaskan bahwa setiap budaya mempertahankan kontrol atas pendidikan di tangan kelompok-kelompok eliteyang secara terus menerusmenguasai kekuasaan politik, ekonomi, agama, dan pendidikan. Plato menggambarkan danya hubungan dinamis antara aktivitas kependidikan dan aktivitas politik. Keduanya seakang dua sisi satu koin, tidak mungkin terpisahkan. Walaupun sangat umum dan singkatanalisis Plato tersebut telah meletakkan fundamental bagi kajian hubungan politik dan pendidikan di kalangan generasi ilmuwan generasi berikutnya.
Dalam ungkapan Abernety dan Coombe (1965: 287), education and politics are inextricably linked (pendidikan dan politik terkait tanpa bisa dipisahkan). Menurut mereka (1965: 289), hubungan timbal balik antara pendidikan dan politik dapat terjadi melalui tiga aspek, yaitu pembentukan sikap kelompok (group attitudes), masalah pengangguran (unemployement), dan peranan politik  kaum cendikia (the political role of the intelligentsia). Kesempatan dan prestasi pendidikan pada suatu kelompok masyarakat, menurut mereka, dapat mempengaruhi akses kelompok tersebut dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi. Perbedaan signifikan anatarberbagai kelompok masyarakat yang disebabkan oleh perbedaan pendidikan dapat dilihat pada distribusi kekuasaan politik dan ekonomidan kesempatan kerja, khususnya pada sektor pelayanan publik. Di negara-negara pasca kolonial, kelompok masyarakata yang mendapat privilese pendidikan lebih mampumelaukan konsolidasi kekuatan, lalu muncul menjadi kelompok penguasa yang menguasai partai-partai politik dan sektor pelayanan publik. Privilese atau diskriminasi pendidikan bisa terjadi karena alasan-alasan budaya atau agama.
Diskriminasi seperti ini sangat nyatadalam kebijakan pendidikan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Penulis mencatat beberapa karakteristik kebijakan pendidikan perintah kolonial Belanda: kolonialistik, intelektualistik, heterogen, diskriminastif, dan self-serving, diarahkan semata-mata untuk kepentingan kolonialisme. Kebijakan pendidikan tersebut berdampak pada kehidupan masyarakat pada waktu itu, yaitu (1) menimbulkan konflik keagamaan antara kelompok Muslim dan kelompok non-Muslim; (2) menciptakan divisi sosial dan kesenjangan budaya antara kelompok minoritas angkatan muda Indonesia yang berasal dari kalangan kelas menengah keatas dan kelompok angkatan muda Indonesia yang berasal dari keluarga biasa; (3) menciptakan polarisasi sosial tanpa memperdulikan kemampuan kerja mereka; dan (4) menghambat perkembangan kaum pribumi (Sirozi 1998: 17-29). Pada masa awal kemerdekaan, kaum nasionalis dapat menguasai birokrasi dan sektor-sektor strategis.

POLITIK PENDIDIKAN (hal 1-9)
M. SIROZI, Ph.D.
Cetakan ke-3, Februari 2010

PT Raja Grafindo Persada, Jakarta