Rabu, 24 Februari 2016

Apakah Gender Itu?

Sejak sepuluh tahun terakhir kata ‘gender’ telah memasuki perbendaharaan di setiap diskusi dan tulisan sekitar perubahan sosial dan pembangunan di Dunia Ketiga. Demikian halnya di Indonesia, hampir semua uraian tentang program pengembangan masyarakat maupun pembangunan di kalangan organisasi non pemetintah diperbincangkan maslah gender. Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan gender itu? Dari pengamatan masih terjadi ketidak jelasan, kesalah pahaman mengenai apa yang dimaksud dengan konsep gender dan kaitannya dengan usaha emansipasi kaum perempuan. Paling tidak ada beberapa penyeban terjadinya ketidak jelasan tersebut. Karena tidak ada kata gender dalam bahasa Indonesia . Kata gender dalam bahasa Indonesia meminjam dari bahasa Inggris. Dari bahasa Inggis kalau dilihat dalam kamus, tidak secara jelas membedakan sex (jenis kelamin) dan gender. Sementara itu belum ada uraian yang mampu menjelaskan secara dingkat dan jelas mengenai konsep gender dan mengapa konsep tersebut penting untuk memahami sistem ketidak adilan sosial. Dengan kata lain timbulnya ketidak jelasan itu disebabkan kurangnya penjelasan mengenai kaitan antara konsep gender dengan persoalan ketidak adilan lainnya.
Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan jenis kelamin (sex). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya bahwa manusia jenis kelamin lelaki adalah manusia yang memiliki atau bersifat seperti daftar berikut: Bahwa kaum lelaki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jakala (kala menjing) dan memproduksi sperma. Sedangkan kaum perempuan memilik alat rreproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki alat vagina dan mempunyai alat menyusui. Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis perempuan dan laki-laki selamanya. Artinya secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara alat biologis yang melekat pada manusia lelaki dan perempuaan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologi atau sering dikatakan ketentuan Tuhan atau kodrat.
Sementara itu konsep lain yang berbeda dari jenis kelamin (sex) adalah konsep gender, yakni suatu sifat yang melekat pada kaum lelaki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya bahwa perempuan itu dikenal: lemah lembut, cantik, emosional, keibuan. Sementara lelaki dianggap: kuat, rasional, jantan, perkasa. Ada beberapa karakter dari sifat tersebut, yakni sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada lelaki yang emosional, lemah lembut, keibuan sementara ada juga perempuan yang kuat rasional dan perkasa. Kedua, perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain. Misalnya saja zamn dahulu di suatu suku tertentu perempuan lebih kuat dari lelaki, tetapi pada zamn yang lain dan di tempat yang berbedalelaki lebih kuat. Ketiga, adalah dari kelas ke kelas masyarakat yang lain juga berbeda. Pada perempuan kelas bawah di pedesaan pada suku tertentu lebih kuat dibandingkan kaum lelaki. Semua yang dapat dipertukarkan antara sifat perempuan dan lelaki, berubah dari waktu ke waktuserta berbeda dari tempat ke tempat lain, serta berbeda dari satu kelas ke kelas yang lain itulah yang dikenal dengan konsep gender.
Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara manusia jenis laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu terbentuknya perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat bahkan dikonstruksi secara sosial, kultural melalui ajaran keagamaan bahkan oleh negara. Melaui proses panjang sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan – seolah olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi, kodrat laki-laki dan kodrat perempuan dipahami sebagai perbedaan gender. Misalnya sifat lemah lembut, sifat memelihara dan sifat emosionalyang dimiliki oleh kaum perempuan dikatakan sebagai kodrat kaum perempuan.
Sebaliknya konstruksi sosial tentang gender dengan dialektika akhirnya tersosialisasikan dengan evolisional dan perlahan-lahan mempengaruhi biologis mesing-masing jenis kelamin. Misalnya, karena konstruksi gender kaum lelaki harus bersifat kuat dan agresif, maka melalui konstruksi sosial seperti itu, kaum lelaki kemudian terlatih dan tersosialisasikan serta termotivasi untuk menjadi atau menuju ke sifat gender yang ditentukan suatu masyarakat, yakni secara fisik lebih kuat dan lebih besar. Sebaliknya, karena konstruksi sosial kaum perempuan harus lemah lembut, maka sejak bayi proses sosialisasi tersebut mempengaruhi tidak saja pada perkembangan emosi dan visi serta ideologi kaum perempuan, namun secara fisik dan biologis mempengaruhi perkembangan berikutnya. Karena proses sosialisasi dan rekonstruksi yang berjalan secara mapan dan lama, akhirnya menjadi sulit lagi dibedakan apakah sifat-sifat gender seperti kaum perempuan lemah lembut dan kaum laki-laki kuat perkasa itu dikonstruksi atau dibentuk oleh masyarakat atau suatu kodrat biologis yang ditetapkan oleh Tuhan. Dengan menggunakan pedoman bahwa setiap sifat biasanya melekat pada jenis kelamin tertentu dan sepanjang sifat-sifat tersebut bisa dtukarkan, maka sifat tersebut adalah hasil konstruksi masyarakat, dan sama sekali bukanlah kodrat.
Setelah jelas berbeda antara sex dengan gender dari uraian tersebut, dapat diajukan pertanyaan mengapa perbedaan jenis kelamin (sex) harus melahirkan perbedaan gender (gender differences)? Apa masalah yang timbul dari perbedaan gender tersebut? Dengan kata lain, kalau perbedaan kaum perempuan dan laki-laki dapat dibedakan dari perbedaan gender – bahwa kaum perempuan itu tidak rasional, emosional, lemah lembut, bahwa kaum lelaki memiliki sifat gender yang rasional. Lantas dimanakah letak masalahnya?

Sumber:


Fakih, Mansour.1995. Menggerser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal: 7-11
 

Konsep Manusia Indonesia Kontemporer



Mochtar Lubis menggambarkan sosok manusia Indonesia berdasarkan realitas sosial yang dilihatnya di masyarakat. Menurutnya, ciri-ciri manusia Indonesia adalah: pertama, hipokritis atau munafik. Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan suatu ciri manusia Indonesia sejak lam, sejak mereka dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkannya ataupun sebenarnya yang dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya. Sistem feodal ini di masa lampau begitu menekan atau menindas inisiatif rakyat, adalah sumber dari hipokrisi tersebut.
Kedua, segan atau enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, tetapi jika ada sesuatu yang sukses maka, manusia Indonesia tidak sungkan-sungkan untuk tampil ke depan menerima  bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan dan sebagainya. Ketiga, memiliki jiwa feodal yang tinggi, ABS (Asal bapak Suka). Keempat, percaya takhayul. Kelima,  berkarakter lemah. Keenam, bukan economic animals, sehingga cenderung boros, tidak suka bekerja keras (budaya instan). Ketujuh, cepat cemburu dan dengki pada orang yang dilihatnya lebih maju (jealous).
Disamping ciri-ciri negatif, manusia Indonesia mempunyai ciri-ciri yang positif. Pertama, memiliki rasa artistik yang tinggi sehingga mampu mengembangkan berbagai hasil kerajinan dan kesenian yang tinggi, Kedua,  suka tolong menolong dan bergotong-royong. Ketiga,  berhati lembut dan suka damai, memiliki kesabaran hati, memiliki rasa humor yang tinggi. Keempat, adanya ikatan kekeluargaan yang mesra dan memiliki kecerdasan yang cukup baik, terutama yang menyangkut keterampilan.
Berdasarkan gambaran manusia Indonesia yang memiliki ciri positif dan negatif tersebut, lalu bagaimana gambaran manusia Indonesia yang ideal? Dalam mayarakat Indonesia kontemporer, khususnya sejak orde baru berkuasa, manusia ideal Indonesia yang sering dikemukakan adalah manusia Pancasila, yaitu manusia Indonesia yang menghayati dan membuat dasar dan pedoman hidupnya, dasar tingkah laku budi pekertinya berdasarkan kepada kelima sila Pancasila; Ketuhanan, Kemanusiaan, Keadilan, Kerakyatan, dan Persatuan Nasional. Namun menurut Mochtar Lubis, gabaran manusia Pancasila itu bisa tercapai jika tercipta kondisi masyarakat yang dapat mendewasakan diri dan melepaskan dirinya dari kungkungan masyarakat semi atau neofeodalis lanjutan masyarakat feodalis zaman dahulu.
Menurut Driyarkara, manusia Pancasila adalah manusia yang diakui sebagai subyek atau otonom. Manusia merupaka satu kesatuan jiwa raga, maka hanya pada manusia pula terdapat totalitas. Manusia menyadari akan adanya dua momen dalam dirinya, yaitu jiwa dan badan, yang merupak suatu totalitas. Justru kesadaran itulah yang membuat manusia dapat merefleksi bahwa berkat badan, manusia adalah bagian dari alam semesta, tetapi berkat jiwa rohaninya ia melampauinya. Jiwa rohani itu membedakan manusia sebagai suatu totelitas dengan segala sesuatu lainnya dalam alam semsta ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jiwa rohani itu merupakan kekhusussan manusia dan menempatkannya sebagai pribadi.
Pemerintah Orde Baru merumuskan manusia Pancasila dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai manusia seutuhnya. Meskipun kosep manusia yang seutuhnya tersebut abstrak, namun perumusan konsep tersebut penting sebagai identitas manusia Indonesia ntuk membentuk dirinya. Manusia yang beridentitas dan identitas manusia menjadi idaman, bahkan mitos yang mendukung upaya manusia modern dalam mencari makna hidup mereka. Identitas menjadi utopia untuk sebagai kaum humanis. Abraham maslow menyatakan kebutuhan manusia akan identitas ini sebagai metamotif yang mendorong manusia untuk mengaktualisasikan potensi-potensi dirinya semaksimal mungkin.
Arief Budiman menyatakan bahwa manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsep sosioligi, dalam arti untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya itu, usaha harus ditujukan kepadapencarian sistem sosial yang dapat mengembangkan potensi yang unik dari tiap-tiap individu. Sitem kapitalisme bukan merupakan sistem sosial yang baik untuk mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan GBHN. Nampaknya sosialisme merupakan sistem alternatif untuk mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.
Sumber:
Forum Mangun Wijaya. 2015. Humanisme Y.B. Mangun Wijaya. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Hal: 25-28

Konsep Manusia Menurut Kebudayaan Barat


Menurut Romo mangun salah satu buah kolonialisme di Indonesia yang positif ialah rontoknya pandangan tentang konsep manusia dan pendidikan feodal model kebudayaan Jawa. pendidikan Barat yang datang itu telah mengalami metamorfosa dari manusia kolektivistis feodal-hierarkis ke manusia Renaissance dan Fajarbudai (aufklarung) dan telah terbebas dari masa kegelapan abad-abad pertengahan, yang menempatkan manusia hanya sebagai obyek kekuasaan para bangsawan. Kebudayaan barat menekankan bahwa tujuan hidup fana tidak lagi hanya selaku persiapan melulu ke dunia akhirat, akan tetapi dihargai sebagai tujuan intrinsik dan sejati pada dirinya, tanpa harus mengingkari nilai hidup akhirat.
Metamorfosa filsafat manusia dengan konsep serta citra manusia yang manusiawi diharapkan semakin manusiawi lagi (humanior) berasal dari pandangan manusia sebagai citra Tuhan (jadi ko-kreator) dalam bahasa Hibrani, sementara benihnya telah ditanam di Indonesia oleh agama Islam yang berakar sama dengan kaum Nasrani pada imam Nabi Ibrahim, yang nantinya diekspresikan dalam pancasila yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno, seorang pribadi tokoh yang dalam porsi amat besar adalah hasil pendidikan Barat humanis juga.
Di barat diakuui umum bahwa bapak filsafat dan gerakan pendidikan modern (antifeodal anti-otoriter) ialah Socrates(470-399 SM) yang mengajar bahwa setiap manusia dari dalam dirinya sudah HAMIL dengan kebenaran (truth). Guru pembina, pendamping, kita semua sebenarnya hanyalah BIDAN, yang memang harus aktif menolong, akan tetapi kelahiran bayi (kebenaran) dilakukan oleh si manusia atau anak yang bersangkutan itu sendiri.
Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), sebelum Revolusi Perancis, mengingatkan pula bahwa dalam pendidikan hendaknya manusia, dalam hal ini anak didik, haruslah ditanggapi sebagai anak, bukan sebagai orang dewasa berbentuk mini, dan bahwa pendidikan harus mulai dari situasi fitri kebaikan alamiah manusiawi (I'homme naturel). Dengan demikian pendidikan smestinya menjawab daya-daya afektif dan perangai dasar kemanusiawian (I'honnete homme) dalam diri si anak.
Menurut romo mangun, meskipun ada beberapa tesis fundamental tentang si anak dari Rousseau yang kurang realistik, terlalu romantis, tetapi sinyalemen dasarnya bahwa banyak anak justru dirusak perkembangan sehatnya oleh kaum dewasa dan masyarakat mempunyai inti yang benar. Sehingga tumbuhlah kemudian pemahaman tentang hakikat kehidupan dan penghayatan anak yang lebih benar (lebih manusiawi).
Sumber:
Forum Mangun Wijaya. 2015. Humanisme Y.B. Mangun Wijaya. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Hal: 24-25

Pasukan RF 2013



RF berasal dari kata Raushan Fikr. Nama sebuah komisariat IMM di Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan yang menaungi berbagai jurusan layaknya fakultas keguruan yang lainnya.

Selasa, 23 Februari 2016

Gadis Pesantren (part 2)

Alasan mengapa ia disebut dengan gadis kecil adalah karena ia memang memiliki fisik yang lebih kecil diantara teman-temanya. Bahakan ketika ia mendaftar sebagai santri baru, santri yang lain mengira kalau ia hanyalah salah satu dari keluarga atau adik santri lama yang berniat untuk berkunjung. Itulah dia, gadis kecil yang bahkan ketika seragam pondoknya baru selesai dijahit, para ukhti berkata kalau bajunya seperti baju boneka karena saking kecilnya baju tersebut.

Hari hari berlalu, banyak kejadian pun dialaminya. Suatu malam entah itu hanya sekedar halusinasinya atau memang ada jin yang sedang usil, ia terbagun tengah malam, ia mendengar suara "kreek kreek" di depan kamar, seolah ada seseorang yang menggerakkan setrika arang yang diletakkan di teras. Ia tak berani bergerak dan hanya diam di tempat tidur dengan jantung yang dag, dig, dug tak karuan.

Ketika matahari telah terbit ia begitu bersyukur, karena saking takutnya dia benar-berharap bahwa geapnya malam tak akan datang menghampirinya. Ia menceritakan kejadian semalam dan salah satu santri lama pun membenarkannya. Ukhti itu bilang kalau semalam posisi setrika tidak menghadapa kearah rak sepatu, melainkan ke arah tembok. Semakin tak karuan rasa takut itu menghantuinya. Namun seiring berjalannya waktu ia telah melupakannya dan bahkan menjadi gadis kecil yang lebih berani.

Suatu ketika salah satu teman sekelasnya ada yang mengalami kesurupan. Atau orang sering menyebutnya kerasukan jin. sedangkan dalam dunia medis menurut beberapa pakar psikiater, penyebab kesurupan ini adalah tekanan sosial dan mental yang masuk ke alam bawah sadar seseorang. Tak pernah terpikir olehnya bahwa temannya itu mungkin tertekan karena dunia pesantren tak sebebas dunia di luar sana. Baginya itu merupakan hal baru, meskipun para ukhti disana mengatakan bahwa hal itu merupakan kejian yang wajar terjadi setiap tahun. Lambat laun ia pun terbiasa dengan hal itu, siapa sangka kalau ternyata beberapa tahun kemudian ia akan berkutat dengan hal itu setiap hari.

Senin, 22 Februari 2016

Gadis Pesantren (part 1)

Siapa sangka, gadis lugu usia 12 tahun yang baru saja lulus Madrasah Ibtida'iyah itu harus melanjutkan studinya di sebuah pondok pesantren. Memang bukan sebuah pondok modern yang besar atau pun pesantren salafi yang moderat, pesantren itu hanyalah bangunan sederhana yang dan sudah tua. Luas lahan yang tidak sampai satu hektar (begitulah kata sang kiyai) dan bangunan asrama putra dan putri yang hanya terpisah oleh gedung sekolah. Tak ada bangunan bertingkat di sekolah itu, yang ada hanyalah lapangan di tengah dan bagunan - jika disebut gedung akan terlalu megah - sekolah yang membentuk huruf U.

Gadis itu hanya berfikir bahwa begitu ia lulus dari MI yang telah lama dinaunginya, ia akan melanjutkan studinya di sekolah negeri di sekitar rumah. Danem yang ia dapatkan pun tidak buruk, bahkan jika ia mendaftarkan diri di sekolah bergengsi di kota itu, maka ia akan masuk di salah satu sekolah unggulan disana. Yahh.. itulah prediksi, ia tak menolak dan juga tidak marah ketika orangtuanya memintanya untuk melanjutkan studi di luar kota, tepatnya di sebuah pondok pesantren.

Hari-hari pertamanya, ia tinggal di rumah sang kiayi, karena istri dari kiyai itu masih ada hubungan famili dengannya. Namun hal itu tidak membuat ia menjadi sombong, terkadang ia turut serta membantu menjaga toko dan juga bergaul dengan teman-temannya di sekolah maupun di pesantren. Mungkin karena orang tuanya yang masih terlalu khawatir sehingga gadis kecil ini dititipkan di rumah saudaranya dan tidak langsung tinggal di asrama. Padahal ia sudah terdaftar pada sebuah kamar yang bernama Mashitoh, nama seorang tokoh muslimah pada zaman fir'aun. Ia hanya menurut saja apa kata ibunya yang memilihkan kamar itu.

Kamar Masyitoh termasuk  salah satu kamar favorit pada saat itu sehingga penghuninya membludak. Ia bukanlah satu-satunya murid baru disana, ada santriwati 5 lain yang juga masih bertitel "tholibah jadidah" disana. Dua diantaranya baru lulus SMP dan tiga yang lain seumuran dengan gadis itu. Salah dari mereka  adalah sepupunya, ia juga masih memiliki hubungan saudara dengan kiyai, malah lebih dekat dibandingkan dengan gdis kecil itu.

Suatu hari, gadis itu dan sepupunya ingin bergaul lebih dekat dengan teman-teman di kamar dan di pondoknya, sehingga mereka memutuskan untuk tidak lagi tidur di rumah pak yai. Karena ukuran kamar yang tak lebih dari 4m x 4m dan penghuninya lebih dari 13 orang, maka harus ada beberapa orang yang rela untuk dipindahkan - bahasa kasar mereka dulu digusur - dalam waktu dekat. Ukhti roisah ghurfah dan wakilnya pun cukup dilema, karena ia harus merelakan beberapa anaknya untuk pindah. Hal itu dapat dipahami, karena roisa ghurfah tidak hanya bertugas untuk memimpin dan mengelola kamar itu dengan baik, melainkan ia juga wajib bertanggung jawab, membimbing serta mendampingi anggota kamar layaknya seorang ibu.

Ada derai airmata disana, karena tak ada seorang pun yang mau pindah. Gadis kecil itu hanyalah anak lugu yang ketika ditawari roisah ghurfah untuk pindah kamar hanya menjawab "kata ibu ana ndak usah pindah ukhti" tanpa tau betapa pusingnya sang ketua kamar. Akhirnya dengan terpaksa salah satu santri jadid dan juga beberapa santri qodim pun harus rela keluar. Sedangkan gadis itu tetap tinggal disana sambil menikmati perjalan hidupnya tanpa ia tahu apa yang akan terjadi padanya esok, lusa dan hari-hari berikutnya.

-------bersambung------

Selasa, 27 Oktober 2015

Kota Kelahiran ku

Kota asal saya adalah kota terkecil se Jawa Timur atau dikenal dengan mojokerto. makanan yang trerkenal disana adalh onde-onde. Siapa sih yang kenal dengan dengan makanan satu ini. Selain bisa dikonsumsi sebagai cemilan, makanan ini juga bisa digunakan sebagai pengganjal sarapan pagi. Tidak hanya itu, saking populernya makanan ini sampai-sampai banyak orang tidak mengetahi asal daerahnya.
Tidak hanya soal makanan, di kota ini juga ada berbagai macam tempat yang bisa di kunjungi, atau bahasa kerennya Tousim Place.
Setiap kali orang bertanya dari mana asal saya, pasti saya jawab dari mojokerto. ketika da yang tanya lebih detai lagi saya jawab di Mojokerto bagian Kota. Hmmhh... memang nampak sombong sih karena orang kota, tapi memang itulah kenyataannya. Karena wilayah  mojokerto ada yang Kota ada pula yang Kabupaten.
Meskipun area Kota Mojokerto lebih sempit dibandingkan luas area Mojokerto yang bagian Kabupaten. Namun saya tidak pernah minder dan tetap bangga dengan kota sempit nan kecil ini, karena disinilah tanah kelahiran saya. Kalaupun ingin tetap update dengan berbagi info tentang Kota Mojokertobisa lang sung klik info mojokerto.